Lelaki itu menghirup cappuccinonya.
Menyesap segala rasa yang menyertai dengan perih menusuk dada.
Ia
lalu melirik jam tangannya. Sudah 2 jam lebih dia di Cafe tersebut.
Sambil menghela nafas panjang ia melihat ke arah luar melalui jendela
berbingkai lebar disampingnya. Gerimis menyiram bumi. Irisan-irisan
tipis air itu menerpa kaca yang membuatnya buram.
Juga membuat wajahnya kian muram.
Ini
adalah cangkir ketiga cappuccinonya. Untung saja ia ditemani laptop
pribadinya yang dapat digunakan untuk menjelajah dunia maya dengan akses
wi-fi di cafe tersebut.
Menunggu memang sebuah pekerjaan yang
membosankan, namun baginya, menanti perempuan bermata kejora, selalu
menimbulkan sensasi tersendiri dan membuat waktu selalu akan menjadi
lebih bersahabat. Selama apapun itu.
Namun tak urung,
setelah 2 jam berlalu dan tenggorokannya mulai terasa pahit setelah
menelan dua cangkir gelas cappuccino, membuatnya sedikit senewen. Tapi
tak apa, ia berusaha berdamai dengan diri sendiri. Demi perempuan yang
menyimpan bintang kejora dimatanya itu, selalu saja ada pengecualian dan
maaf tak bertepi.
Ia ingat, secara tak terduga, perempuan yang
pernah menyimpan separuh hatinya dimasa lalu itu datang menyapanya lewat
email 4 bulan silam.
“Gembira rasanya menemukanmu kembali lewat Facebook, lelaki pencumbu malam. Apa kabarmu?”
Masih
selalu terngiang dibenaknya kalimat di email pertama perempuan itu yang
seketika membuat jantungnya seakan meloncat keluar. Ia begitu bahagia
dan tak menyangka, dunia maya mempertemukan mereka secara tak terduga.
Dan
setelah itu, interaksi diantara mereka kembali terjalin setelah hampir
15 tahun berlalu. Mereka bercerita, tertawa dan saling berbagi rasa
melalui komunikasi lewat internet.
Perempuan itu bercerita telah
berkeluarga dan memiliki 2 orang anak, sementara sang lelaki berkisah ia
pun sudah berumahtangga dan mempunyai satu orang anak. Mereka mengaku
berbahagia dan mengirim foto keluarga masing-masing serta saling
berkomentar.
“Anakmu cantik, sama seperti ibunya dulu,” kata lelaki itu tulus.
“Anakmu juga ganteng, sama seperti ayahnya dulu,” balas perempuan itu.
Dan
kenangan masa lalu pun mengalir deras lewat email-email yang
berseliweran antara mereka. Tentang puisi-puisi cinta yang selalu
dilampirkan lelaki itu pada buku pelajaran yang dipinjamnya, dan
diam-diam masih disimpan rapi perempuan itu.
Tentang indahnya
perjalanan cinta masa remaja mereka juga pedihnya perpisahan karena
perempuan itu pindah ke kota lain dan sejak saat itu kehilangan kontak
dengannya, hingga akhirnya 4 bulan silam, takdir mempertemukan kembali.
Mereka menikmati percakapan intens dari dunia maya itu.
“Aku
merindukan suaramu, tolong beritahukan nomor teleponmu dan kita
bercakap lagi, seperti dulu,” ucap lelaki itu dalam sebuah email dengan
rasa kangen yang membuncah.
“Tidak perlu. Seperti begini
saja, bagiku sudah cukup. Aku tak ingin kita melampaui pagar yang telah
kita miliki dan jaga masing-masing dengan baik selama ini,” balas
perempuan itu. Tegas. Lugas.
Lelaki itu menyerah. Sampai kemudian dua hari lalu ia menerima email dari perempuan itu.
“Aku ada tugas kantor ke kotamu, selama dua hari. Berangkat besok pagi dengan pesawat pertama”
Lelaki itu menatap monitor komputernya dengan mata berbinar. Seperti tak percaya.
“Boleh saya jemput?”, ia membalas email tadi dengan jemari gemetar. Jantungnya berdegup kencang.
“Tidak usah. Nanti merepotkanmu. Aku masih ingat kok jalan-jalan di kota kita dulu walau sudah belasan tahun aku tinggalkan”
Lelaki itu menghela nafas panjang.
“Boleh
ketemu? Hanya sebatas sebagai kawan lama, bukan sebagai mantan kekasih.
Tak lebih. Aku penasaran melihat sosok aslimu setelah 15 tahun
berlalu”, kembali lelaki itu menulis email dengan jemari gemetar sambil
menahan nafas. Tegang.
Jawaban tak segera datang. Lelaki itu sabar menanti. Beberapa jam kemudian, jawaban itu tiba.
“Maaf,
aku tak bisa. Jadwalku padat disana. Lagipula, kamu toh sudah melihat
sosok asliku yang sudah mulai beranjak tua itu di foto yang pernah aku
kirimkan tempo hari. Tak ada sesuatu yang istimewa yang bisa kamu
harapkan dariku setelah 15 tahun berlalu. Kita bertemu lewat jalur maya
saja. Itu lebih baik. Mari kita hormati lembaga pernikahan yang telah
kita miliki dan pegang teguh selama ini. You’re still my best friend.
Forever. Aku masih tetap bisa online kok selama disana, kamu juga tetap
dapat mengirimiku email kapan saja “
Lelaki itu menelan ludah. Tapi aku merindukanmu ! Jerit batinnya kesal. Ia lalu membalas email tersebut:
“Aku
hanya ingin menyerahkan langsung novel yang baru saja aku terbitkan
padamu. Ini sebuah kehormatan besar buatku karena beberapa penggal isi
novel itu berisi sejumlah kenangan tentang perjalanan cinta kita berdua
dulu. Novel ini baru beredar bulan depan. Aku ingin memberikan satu
eksemplar langsung padamu dan menyaksikan ekspresi wajahmu saat
menerimanya. Bila kamu tak berkenan menemuiku lama-lama, tak apa. Aku
hanya menyerahkan buku itu padamu dan selesai. Kamu boleh pergi. Bahkan
walau tanpa ada percakapan diantara kita sekalipun. Aku akan menunggumu
di Cafe Nirwana pukul dua siang besok. Please, aku mengharapkannya..”.
5 jam kemudian, jawaban itu datang
“Baiklah. Tapi tidak lama-lama and just between us, as old friends, not more than that.Okey?”
Lelaki itu melonjak gembira. Ia mengetik balasan email itu dengan mata berbinar.
“OK, terimakasih. Aku akan ada disana setengah jam sebelum janji kita ketemu. See you tomorrow”
***
Dia
masih seperti dulu. Badan tinggi tegap, rambut ikal meski ada beberapa
helai uban terlihat dan wajah tampan dengan rahang kukuh yang menjadi
ciri khasnya, perempuan bermata kejora itu membatin.
Ia telah
sampai di Cafe Nirwana, bahkan sebelum lelaki itu tiba dan mengambil
sebuah tempat tersembunyi yang membuatnya lebh leluasa menyaksikan
pengunjung Cafe yang ramai berdatangan.
Berbagai perasaan
berkecamuk dihatinya. Terutama saat melihat beberapa email dari lelaki
itu masuk ke inbox-nya yang menanyakannya dimana ia berada saat ini dan
sama sekali tak dijawabnya.
Setelah 15 tahun berlalu, ternyata
perasaan itu tak berubah. Ia masih mencintai lelaki pencumbu malam itu.
Lelaki yang sekalipun tak pernah menyatakan perasaan cinta padanya namun
mengungkapkannya lewat puisi yang seketika membuat hatinya porak
poranda dan melambung ke atas awan. Ia masih menyimpan puisi yang
disisipkan pada buku matematika yang dipinjam lelaki itu padanya, sebuah
puisi yang selalu membuatnya rindu:
Pada Saatnya,
Ketika musim berganti
Dan gugusan mendung yang ranum
Menitikkan tetes hujan pertama
Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu
Menyibak kabut keraguan
Lalu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu
Pada Saatnya,
Di ujung perjalanan
Akan kubingkai binar matamu
Bersama gelegak gairah jiwaku
Menjadi lukisan indah di lekuk cakrawala
Dalam leleh cahaya bulan melumuri langit
ditingkah semilir angin laut
dan tarian ombak
membelai lembut kristal pasir pantai
Pada Saatnya,
Akan kubuatmu terjaga dari lelap tidur
lalu bersama merajut impian yang tak segera usai,
Dalam genangan cinta dipalung kalbu
Dan getar cumbu tak berkesudahan
Perempuan
itu menghela nafas panjang. Begitu berat beban yang menghimpit
dadanya.Tapi ia telah memutuskan. Dan baginya inilah jalan yang terbaik,
meski menyisakan luka menganga begitu dalam dihatinya. Dengan gerakan
kaku dan rasa haru di kalbu, ia mengirim sebuah puisi ke alamat email
lelaki itu.
Selalu, aku rasa,
kita akan bercakap dalam senyap
Dengan bahasa langit yang hanya kita yang tahu
serta menyemai setiap harap yang kerap datang mengendap
lalu meresapinya ke hati dengan getir
Selalu, aku rasa,
kamu tersenyum disana, ketika akupun tersenyum disini
dan kita, dengan bahasa langit yang kita punya itu,
secara bersahaja, menyapa larik-larik kenangan
dan meniti setiap selasar waktu
bersama desir rindu menoreh kalbu
Selalu, aku rasa,
kita tak dapat menafikan
batas yang membentang
dimana jarak membingkainya lalu menjadikannya nyata
serta membuat kita sadar
bahwa pada akhirnya,
dalam pilu kita berkata:
Biarlah, kita menyesap setiap serpihan senyap
dan menikmatinya, tak henti,
hingga lelap
tanpa tatap, tanpa ratap
Setelah
konfirmasi pengiriman email terlihat, ia bergegas mematikan laptop dan
keluar dari cafe tersebut melalui jalan belakang. Rinai hujan
menyambutnya diluar dan ia nekad menembus jarum-jarum air yang menitik
tajam ke tubuhnya itu, bersama air mata yang menetes pelan di pipinya.
Sebuah taksi yang kebetulan lewat segera ia tahan dan berlalu pergi
bersamanya.
***
Lelaki itu
mendadak tersentak kaget. Dari balik kaca jendela ia melihat sosok
perempuan yang ditunggunya itu berlari menembus hujan dari arah belakang
Cafe dan bergegas menahan sebuah taksi yang lewat.
Spontan lelaki
tadi berlari keluar Cafe mengejar taksi tersebut sambil meneriakkan
nama perempuan tadi dengan lantang. Hujan deras membasahi seluruh
tubuhnya.
Dan terlambat, perempuan itu telah pergi, melaju bersama taksi yang ditumpanginya.
Lelaki itu tergugu pilu. Perempuan itu telah menghilang di balik hujan.
Tiba-tiba ia ingin menulis sebuah puisi dan menorehkannya ke langit kelam. Untuk perempuan yang telah membawa separuh hatinya :
Sudah lama,
aku menyulam khayalan pada tirai hujan
menata wajahmu disana serupa puzzle,
sekeping demi sekeping,
dengan perekat kenangan di tiap sisinya
lalu saat semuanya menjelma sempurna
kubingkai lukisan parasmu itu
dalam setiap leleh rindu
yang kupelihara di sudut hati dengan rasa masygul
dari musim ke musim
“Cinta selalu memendam rahasia dan misterinya sendiri,
pada langit, pada hujan,” katamu lirih terbata-bata.
Dan seketika, linangan air matamu menjelma
bagai deras aliran sungai yang menghanyutkanku
jauh ke hulu
dimana setiap harapan kita karam disana
Sudah lama, aku memindai sosokmu
pada derai gerimis
memastikan setiap serpih mimpiku
untuk bersama membangun surga di telapak kakimu
dapat menjadi nyata
tapi selalu, semuanya segera berlalu
dan sirna bersama desir angin di beranda
“Percayalah, aku ada dinadimu seperti kamu ada didarahku,” bisikmu pelan
ketika bayangmu, perlahan memudar dibalik rinai hujan..
=============================================================
In Memoriam : "Harry Risnawan" -Rest in peace :02.04.2013-
. ..