oleh Muhammad Ali
Posted: 27/04/2013 00:10
Liputan6.com, Jakarta :
Salam rinduku kasih...Salam rinduku Nabi...Salam rinduku kasih... Salam rinduku Nabi. Demikian
lantunan lagu Ustad Jefri Al Bukhori. Dalam tembang Salawat Cinta,
ustad yang biasa disapa Uje itu menumpahkan segala rasa rindunya kepada
sang suri teladan, Nabi Muhammad SAW. Namun, kini lantunan suara merdu
Uje tak akan terdengar lagi untuk selama-lamanya.
Uje, dai yang
multilatenta itu kini telah tiada. Kecelakaan tunggal di Jalan Gedong
Hijau, Pondok Indah, Jakarta Selatan telah merenggut nyawanya. Kepergian
Uje tak hanya menyisakan duka bagi keluarga, namun juga bagi masyarakat
Indonesia. Sejumlah kalangan pun berduyun-duyun menyambangi kediaman
Uje di Perumahan Bukit Mas, Jalan Narmada 3 Blok I No 11, Rempoa
Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, untuk menyampaikan doa.
Wakil Gubernur Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama mengaku mengagumi sosok Uje. Walau masih muda, namun ilmu agama yang dikuasainya begitu luas, sehingga menjadikan ia sebagai seorang pendakwah.
"Saya
suka banget dengan khotbahnya, enak didengar. Pokoknya, Uje keren
banget saat menyampaikan khotbahnya. Saya kagum dengan dia," kata Ahok.
Kronologi KejadianPertemuan
di Kemang, Jakart Selatan, yang dihadiri 4 ustad menjadi awal peristiwa
nahas tersebut. Menurut Kang Asep yang merupakan sepupu Uje, usai
mengadakan pertemuan itu, mereka pulang melalui kawasan Pondok Indah
dengan mengendarai motor beriringan. Namun Uje mendahului ketiga
temannya dan tak terlihat lagi hingga terjadi kecelakaan itu.

Uje yang menggunakan
Moge Kawasaki E650 bernopol B 3590 SGQ menabrak pohon palem kedua di tepi jalan. Tubuh Sang Ustad terpental sekitar 3-4 meter, kemudian mogenya masih melaju hingga 30 meter.
Usep
menyebutkan, Ustad Jefri memang memacu kendaraannya dengan kecepatan
tinggi. Bahkan, seorang saksi menyatakan tak mampu mengejar
sang ustad dengan kecepatan 100 km/jam.
"Mereka semua mengendarai motor. Ustad (Uje) jalan duluan. Kata (saksi)
yang ikut saat itu, 'Saya di atas 100 km per jam saja tidak ngejar,"
ungkap Kang Asep saat ditemui di kediaman Uje di Perumahan Bukit Mas
Bintaro, Rempoa, Tangerang Selatan, Jumat (26/4/2013).
Sebelumnya,
tutur Kang Asep, keempat temannya yang mengetahui kondisi Uje sedang
tidak fit sempat melarangnya mengendarai motor sendiri. Namun, Uje
meyakinkan teman-temannya itu masih mampu mengendarai motor sendiri.
"Sudah sempat dilarang sama teman-teman. Cuma dia bilang dia bisa," sambung pria yang kerap ikut Uje berdakwah itu.
Dari olah TKP diketahui, penyebab meninggalnya sang ustad yang kerap muncul pada acara rohani ini
diduga akibat kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit atau mengantuk.
"Pertama menabrak trotoar, lalu motornya semakin ke kiri dan menabrak
pohon palem yang ada di atas trotoar. Setelah itu korban jatuh ke jalan
dan motornya melaju," jelas Kepala Satuan Lantas Polres Jakarta Selatan
Ajun Komisaris Besar Polisi Hindarsono di Jakarta.
Setelah
kecelakaan itu, Uje sempat dibawa ke Rumah Sakit Pondok Indah. Namun,
nyawanya tak tertolong lantaran luka diderita sangat parah. "Luka pada
wajah sebelah kiri, terkena benturan pohon. Korban mengalami out of
control, " jelas Hindarsono.
"Dugaan sementara karena mengantuk, kejadiannya sudah malam juga kan, jadi lepas kontrol lalu menabrak," imbuh dia.
Firasat perpisahanTak
ada yang tahu kapan kematian akan tiba. Kendati demikian, seseorang
kerap diberi firasat jika jatah hidupnya akan berakhir. Kondisi ini
telah tampak dalam sejumlah sikap yang dilakukan Uje sebelum ia
meninggal dunia. Ibunda Uje, Hj Tathu Mulyana mengaku sebelum berpisah
dengan putranya, Uje sempat melontarkan pernyataan tentang usianya.
"Dia sempet bilang, dua hari lalu. Umi, saya belum bayar ini, udah jatuh tempo," ungkapnya.
Sifat
Uje yang suka bercanda dengan sang ibu, membuat Tathu tak berpikir
bahwa ungkapan itu adalah tanda bila sang anak akan meninggal dunia.
"Kita mah enggak pikir ke umur, ternyata jatuh temponya ini
(meninggal)," tuturnya sedih.
Firasat itu juga sempat Uje
tunjukkan kepada sang adik, Fajar Sidiq. Tiga hari sebelum meninggal,
Uje sempat mengirim pesan melalui broadcast message layanan
Blackberry Messenger (BBM) kepada pada kerabat dan rekan-rekannya sesama pendakwah melalui handphone Blackberry miliknya.
"Isinya
kurang lebih seperti ini, 'mohon maaf ini (Blackberry) tidak aktif,
sekali lagi mohon maaf lahir bathin'," tutur Fajar di rumah duka di
Tangerang, Jumat (26/4/2013).
Tak hanya itu, lanjut Fajar, ustadz juga
berpesan kepada keluarga agar memakamkan dirinya berdekatan dengan makam sang ayah. Yang mengejutkan, pesan itu disampaikannya saat melaksanakan ibadah umrah, beberapa minggu lalu.
"Pas
umroh kemarin, beliau bilang 'kalau gue mati, gue mau deket sama Apih
(panggilan Ustadz Jefri pada ayahnya). Karena dia ngerasa bandel dulu,
jadi dia pengin deket sama bapaknya," terang sang adik.
Tak hanya itu,
Uje juga menghapus kontak teman-temannya yang ada di blackberrynya. "Bb
(blackberry) didelete-deletin sama Uje. Saya nggak tau kenapa," kata
Eko 'Patrio' sebelum ikut menyolatkan jenazah Uje di Masjid Istiqlal,
Jakarta Pusat.
Meski tak terlalu aktif di media sosial, f
irasat perpisahan itu juga ada dalam kicauan Uje dalam twitternya yang ia tulis bertanggal 13 Maret 2013. "Pada
akhirnya.. Semua akan menemukan yg namanya titik jenuh.. Dan pada saat
itu.. Kembali adalah yg terbaik.. Kembali pada siapa..??? Kpd "DIA"
pastinya.. Bismi_KA Allohumma ahya wa amuut.." kicau Uje dalam
twitternya.
Sebelum meninggal, Uje sempat bertemu dengan
sahabatnya yang juga sesama pendakwah, yakni Ustadz Solmed. Dalam
kesempatan itu, keduanya berbincang tentang banyak hal. Tak disangka,
Ustadz Jefri pun melontarkan sebuah ucapan yang diyakini Ustadz Solmed
sebagai pesan terakhir dari pria yang wafat di usia 40 tahun itu.
"Dia
(Ustadz Jefri) bilang sama saya, 'ente harus lanjutin dakwah ane',"
kenang Ustadz Solmed sambil berlinang air mata saat berta'ziah di rumah
duka di Tangerang.
Ustadz Jefri juga sempat memberikan
kenang-kenangan pada Ustadz yang sempat membintangi sinetron Pesantren
Rock N Roll tersebut. Dia memberikan cincin dan peci sambil berkata 'ini
cincin buat elo, elo terusin dakwah gue, ini peci juga buat elo, elo
terusin dakwah gue'.
Dari mantan pecandu jadi ustad kondangPerjalanan hidup Jefri al Bukhori memang sungguh dahsyat.
Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa
dialami Uje hingga menemukan kehidupan yang tenang dan menenteramkan.
Jefri
lahirkan pada 12 April 1973 di Jakarta. Dia adalah anak ketiga dari
lima bersaudara pasangan almarhum Haji Ismail Moda dan Hajah Tatu
Mulyana. Apih (panggilan Jefri untuk ayahnya--Red.) asli Ambon,
sedangkan Umi (demikian sang ibunda dipanggil) berasal dari Banten. Apih
mendidik Uje dan 4 saudaranya itu dengan sangat keras, terutama dalam
hal agama.
Berada di lingkungan keluarga yang taat agama membuat
Uje menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, Uje pernah ikut
kejuaraan MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) hingga tingkat provinsi.
Selain agama, pelajaran yang juga kusukai adalah kesenian. Entah
mengapa, Uje suka sekali tampil di depan orang banyak. Uje pun terbilang
cerdas di sekolahnya. Setelah kenaikan kelas, dari kelas tiga sekolah
dasar (SD) dia langsung melompat ke kelas lima. Jadilah Uje sekelas
dengan kakaknya yang kedua.
Setelah lulus SD, bersama kedua
kakaknya, alm. Ust. H. Abdullah Riyad dan Ust. H. Aswan Faisal,
bersekolah di PonDaar el-Qolam Gintung, Jayanti, Tangerang. Namun selama
di pesantren, Uje terbilang nakal. Seringkali saat teman-temannya
lainnya belajar, ia diam-diam tidur atau kabur dari pesantren untuk main
dan nonton di bioskop. Sampai akhirnya Uje dikeluarkan dari pesantren
tersebut yang sempat dikecapnya selama tahun yang harus dijalani.
Setelah itu, Uje dipindahkan ke Madrasah Aliyah (MA, setingkat SMA).
Bukannya bertambah baik, kenakalan Uje justru bertambah.
Apalagi
setelah lulus di tahun 1990 dan kuliah di akademi broadcasting,
kenakalan Uje tak berkurang. Dia bergaul dengan pemakai narkoba dan
sering dugem (dunia gemerlap). Bahkan Uje akhirnya tak menyelesaikan
kuliah. Pada 1991, Uje pernah menjadi dancer di salah satu club. Uje
juga sering nongkrong di Institut Kesenian Jakarta.
Di kala para
pemain sinetron sedang latihan, kadang-kadang Uje menggantikan salah
satunya. Ia pun ikut casting dan mendapat peran. Salah satu sinetron
yang sempat dibintanginya adalah Pendekar Halilintar. Bahkan Uje pernah
dinobatkan sebagai pemeran pria terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja
yang diadakan TVRI pada 1991.`
Uje bertemu dengan Pipik Dian
Irawati, seorang model gadis sampul majalah Aneka tahun 1995 asal
Semarang, Jawa Tengah. Saat itu, Uje masih berstatus sebagai pemakai
narkoba. Meski demikian, hal itu tidak menghalangi Pipik yang bersedia
dinikah siri pada 7 September 1999. Dua bulan kemudian mereka menikah
resmi di Semarang. Pernikahannya dengan Pipik ini dikaruniai 4 anak,
Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari, dan Ayla Azuhro,
serta Attaya Bilal Rizkillah.
Hal yang menyadarkan Uje dari
kehidupan semu adalah saat dirinya diajak umrah oleh ibu dan kakaknya.
Sebagai awal dari usaha pertobatan, Uje mendapat amanah dari kakak
tertuanya alm. Ust. H. Abdullah Riyad, untuk melanjutkan dakwah kakaknya
di Jakarta.
Umi mau 'ikut' Abi aja...Kepergian Ustad Jefri membawa duka mendalam bagi keluarga.
Sang istri, Pipik Dian Irawati, terus menangis histeris setelah mendengar sang suami meninggal setelah kecelakaan. Bahkan dirinya pun pingsan hingga beberapa kali.
"Yang
paling menyedihkan, Mbak Pipik menangis terus, disampingnya
anak-anaknya yang masih kecil juga ikut menangis," kata istri Bebi
Romeo, Meisya Siregar yang juga tak kuasa menahan air mata. "Bahkan
katanya, saat menjemput jenazah di RS Pondok Indah, Mbak Pipik
terus-terusan berteriak 'Ini badannya (Ustadz Jerfy) masih panas. Masih
Hidup'," paparnya.
Bahkan usai mengantar sang suami ke
peristirahatan terakhir di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta
Pusat, Pipik yang tiba di rumah masih tak percaya bahwa suaminya sudah
meninggal dunia. Sambil duduk di lantai, Pipik bersandar di tembok. Saat
itulah, Pipik seperti meracau berbicara sendiri. Dia tak percaya, pria
yang begitu dicintainya pergi begitu cepat.
"Mau ikut Abi, Umi
mau ikut Abi aja. Kenapa harus kayak gini. Abi pergi kenapa harus gini
Abi," kata Pipik sambil terus menangis diapit keluarganya.
Tamu-tamu
yang datang datang langsung duduk bersila di dekat Pipik sambil membaca
surat Yasin. Pipik tidak berhenti bicara. Dia terus berkata, "Abi belum
meninggal. Badannya masih hangat kok sudah dibawa ke kamar mayat," ujar
Pipik yang terus menangis.
Lautan manusia antar kepergian sang guru
Setelah disemayamkan di rumah duka selama sekitar 6 jam, jenazah Uje diberangkatkan ke Masjid Istiqlal untuk disalatkan.
Ratusan orang mengiringi jasad Uje yang
berada dalam mobil ambulans dari Yayasan Bunga Kemboja. Pengawalan tak
hanya dilakukan oleh para jemaahnya, namun juga FPI. Ormas pimpinan
Habib Rizieq ini menurunkan 500 laskarnya untuk mengawal jenazah Uje
hingga pemakaman.
Gema takbir pun mengiringi jenazah saat dibawa
dari dalam rumah menuju ambulance.Keranda Uje sempat jadi rebutan
jamaah. Merkea berlomba memegang keranda yang membawa Uje, namun tidak
sampai menimbulkan keributan. Di Masjid Istiqlal,
lautan manusia telah berkumpul bersiap menyambut kedatangan sang guru. Mereka melantunkan salawat dan tahlil. Saat salat jenazah akan dimulai. Suasana sempat tidak kondusif.
Sempat
terjadi saling dorong dari para jamaah. Mereka seakan berebut ingin
menyentuh keranda dan jasad sang ustad. Wakil Imam Besar Masjid
Istiqlal, Syarifudin Muhammad pun sedikit berang dan bersuara lantang
meminta jemaah untuk bersikap tenang.
Suasana kembali tak
kondusif saat jenazah Uje usai disalatkan. Lautan manusia menghampar
mulai dari dalam masjid hingga ke pintu gerbang Masjid Istiqlal. Jamaah
berebut ingin mendekat keranda mayat ustad muda yang populis itu.
Bahkan sempat terjadi sedikit keributan.
Massa berebut, merapat, bahkan ada yang membuka selimut keranda. Banyak
juga dari mereka yang terus mengabadikan gambar. Bukan perkara mudah
bagi ambulans yang mengangkut jenazah Uje keluar dari masjid. Perlu
sedikit perjuangan. Banyak jamaah yang menutupi jalan. Tetapi akhirnya
kondisi itu bisa dikendalikan.
Ambulans jenazah Uje akhirnya
berangkat menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Tengsin,
Jakarta Pusat. Mengantar Uje ke peristirahatan terakhir.
Di TPU
Karet Bivak, ribuan orang menyemut dan berkerumun di satu titik pusara
yang sudah beratapkan tenda yang berada di blok A I blad 38 nomer 203.
Massa berkerumun sejak selepas salat Jumat tadi (26/4/2013) dan
berkonsentrasi di satu liang lahat Uje yang akan dimakamkan di dekat
makam sang ayah, H Ismail Modal.
Tahlil terus bergema seiring jenazah Uje dimasukkan ke peristirahatan terakhir.
Dengan susah payah, jenazah pun akhirnya sampai di dalam liang lahat.
Papan-papan di dalam sudah dirapatkan. Tanah yang masih merah pun
menutup liang tempat Uje dimakamkan.
Asa sebelum 'dipanggil' Banyak
mimpi Ustad Jefri semasa hidupnya yang ingin direalisasikan. Salah
satunya adalah ingin membuat film bertemakan religi. Bahkan keinginannya
itu sudah disampaikan kepada Eko Patrio. "Kita rencana mau bikin film
bareng dan acara sahur," kata Eko sebelum ikut mensalatkan jenazah Ustad
Jeffry di Masjid Istiqlal.
Dalam film itu, rencananya akan
menjadikan Uje sebagai peran utama. Namun sayang, belum membicarakan
lebih lanjut, Uje keburu dipanggil Tuhan untuk selamanya. "Dia akan jadi
peran utama di film tentang dakwah itu. Baru niat, dia sudah
meninggal," kata suami Viona ini.
Selain itu, Uje juga sempat
melontarkan keinginan terakhirnya untuk berkonsentrasi memajukan pesantren yang
tengah dibangun di kawasan Gunung Putri, Cikeas, Bogor. "Saat saya
bareng ceramah di Cilegon, Banten. Seminggu lalu beliau sempat bilang
'kapan ya bisa lebih istiqomah di pondok pesantren'. Dia bilang itu,"
kata sepupu Uje, Kang Asep saat ditemui di kediaman Uje di Bukit Mas
Bintaro, Rempoa, Jakarta Selatan.
Uje memang sedang melakukan
pembangunan pesantren di daerah Cikeas, Bogor. Pesantren yang berdiri di
atas lahan puluhan hektare itu rencananya untuk anak-anak kurang mampu
dan yatim piatu.
Harapan itu akan tetap dilanjutkan kendati Uje
telah tiada. Sejumlah rekan dan kerabatnya berkomitmen melanjutkan
dakwah Uje. Semoga niat dan amal itu akan menjadi amal jariah yang
pahalanya akan terus mengalir meski ia terbaring di 'sana'.
Selamat jalan ustad, selamat jalan guru.. Jasamu akan dikenang selamanya..(Ali)